Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 September 2011

Manfaat Hormon Cinta Oksitosin

Menjalin dan membina hubungan jangka panjang seperti pernikahan tidaklah mudah. Para ahli dan penasehat perkawinan selalu menyebutkan pentingnya komunikasi positif untuk membina keluarga yang harmonis.

Baru-baru ini sebuah tim dari Swiss menemukan manfaat hormon cinta yang baru diketahui dan disebut-sebut dapat membantu menghilangkan konflik-konflik dalam rumah tangga.
Hormon cinta itu bernama Oksitosin (Oxytocin), di otak dia berfungsi sebagai neurotrasnmitter. Oksitosin telah digunakan selama bertahun-tahun melalui proses-proses seperti kelahiran dan menyusui. Oksitosin bermanfaat untuk mengurangi rasa cemas dan stres, hormon ini juga menciptakan perasaan nyaman, gairah, empati, ikatan dan seksualitas.
Para peneliti dari Swiss melakukan penelitian tentang manfaat hormon oksitosin pada interaksi hubungan suami istri untuk membantu terjalinnya komunikasi yang lebih baik. Di pasaran, oksitosin dijual dibawah label ‘Liquid Trus” dan sering juga disebut “Cuddle Chemical”.

Untuk keperluan studi, para peneliti merekrut beberapa pasangan suami istri yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok: satu kelompok peserta diberikan oksitosin intranasal dan kelompok lainnya menerima plasebo, dalam bentuk semprot hidung. Setelah itu setiap pasangan dilibatkan dalam diskusi yang tajam di lingkungan laboratorium. Para ahli menganalisis efek dari hormon yang diberikan kepada setiap pasangan dan menemukan bahwa hormon oksitosin mampu menurunkan tingkat stres dan dapat meningkatkan perilaku komunikasi yang positif, jika dibandingkan dengan pasangan yang menggunakan plasebo.
“Kami baru memahami efek kuat dari hormon oksitosin dan bahan kimia yang dikeluarkan oleh tubuh dalam konteks interaksi sosial,” komentar John Krystal, MD, editor Biological Psychiatry dan menambahkan bahwa para ilmuwan berharap untuk menjajaki penggunaan farmakologis oksitosin dalam rangka memfasilitasi komunikasi positif, dan menurunkan tingkat stres antara pasangan yang mengalami kesulitan mengambil keputusan ketika berdiskusi tentang urusan-urusan rumah tangga.

Penulis utama dari studi ini, Beate Ditzen mengatakan bahwa penelitian ini adalah yang pertama dari jenisnya dan sangat penting karena menganalisis perilaku pasangan secara real-time dan alami. Menurut Ditzen, hormon dapat membantu para ilmuwan meningkatkan efek dari pengobatan standar yang digunakan selama ini, seperti pada terapi perilaku kognitif dengan menciptakan suasana interaksi sosial yang mudah bagi semua orang. “Kemungkinan besar, terapi hormon ini tidak akan mengganti pengobatan standar yang biasa dilakukan”, kata Ditzen.

Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini tidak menunjukkan bahwa hormon oksitosin harus digunakan sebagai pengobatan yang independen, selain itu efek dari penggunaan hormon secara berulang juga belum diperiksa. Penelitian sebelumnya tentang hormon oksitosin, yang diterbitkan pada bulan Juli 1999 di jurnal Psychiatry, sampai pada kesimpulan bahwa hormon ini mungkin adalah penengah yang baik dalam pengalaman emosional bagi hubugan-hubungan emosional yang sangat dekat.

Penelitian lain yang ditulis oleh Rebecca Turner, PhD, dari University of California, menemukan bahwa oksitosin adalah hormon yang sangat kuat yang mendorong keterikatan antara manusia. Oksitosin adalah reaksi alami tubuh dalam menanggapi perasaan kebahagiaan, dan hormon yang bekerja untuk menciptakan ikatan antara ibu dan bayi setelah lahir.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar